Strategi pembelajaran kooperatif
Nama : Ahmad Syafiq M.B
NIM : 203111120
RESUME
STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Abdullah (2001: 19-20) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta didik, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama antar peserta didik itu sendiri. Sistem pembelajaran ini sama halnya dengan pembelajaran berkelompok, hanya saja siswa memiliki tanggung jawab dalam belajar untuk diri sendiri dan sesama anggota kelompok.
B. Tujuan
Tujuan pembelajaran kooperatif :
Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik
Agar siswa dapat menerima teman-temannya yang memiliki berbagai perbedaan latar belakang
Mengembangkan keterampilan sosial siswa,
Menurut Linda Lungren (1994: 120) dalam (Ibrahim, dkk., 2000: 18) manfaat pembelajaran kooperatif diantaranya :
Meningkatkan pencurahan waktu pada penugasa;
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi;
Memperbaiki kehadiran
Angka putus sekolah menjadi lebih rendah;
Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar;
Perilaku menganggu menjadi lebih kecil;
konflik antar pribadi berkurang;
Pemahaman yang lebih mendalam;
Motivasi lebih meningkat;
Hasil belajar lebih tinggi;
Meningkatkan kebaikan, budi, kepekaan, dan toleransi.
C. Ciri-ciri
Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut :
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar;
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki keterampilan tinggi, sedang, dan rendah (heterogen);
Apabila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda;
Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu (Ibrahim, dkk., 2000:6)
D. Strategi
Strategi pembelajaran kooperatif adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Terdapat hal penting dalam strategi pembelajaran yang telah ditetapkan :
Adanya peserta didik dalam kelompok;
Adanya aturan main;
Adanya upaya belajar dalam kelompok;
Tatap muka;
Evaluasi proses kelompok.
Berkenaan dengan pengelompokkan siswa, dapat ditentukan berdasarkan
minat dan bakat siswa;
latar belakang kemampuan siswa;
kemampuan bersosialisasi;
tatap muka;
evaluasi proses kelompok.
Nurul Hayati (2002:25-28) mengemukakan lima unsur dasar cooperative learning, yaitu :
ketergantungan positif;
pertanggungjawaban individu;
kemampuan bersosialisasi;
tatap muka;
evaluasi proses kelompok.
Siahaan (2005:2) mengemukakan lima unsur penting dalam proses pembelajaran kooperatif :
Saling ketergantungan positif;
Interaksi berhadapan;
Tanggung jawab individu;
Keterampilan sosial;
Terjadinya proses dalam kelompok.
E. Metode Pembelajaran Kooperatif
1. Model Jingsaw
→Model pembelajaran ini mengambil pola gergaji, yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerjasama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Seperti yang diungkapkan Lie (1993: 73) bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang secara heterogen, dan siswa bekerjasama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
→Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Melakukan kegiatan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut;
Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok, atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut.
Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapat dari diskusi tim ahli;
Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi;
Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok
→kelebihan :
Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain;
Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan;
Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya;
Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif;
Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.
2. Student Team Achievement Division (STAD)
-STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang paling sederhana dan yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru mencoba menggunakan pendekatan kooperatif (Slavin, 2010: 143).
- Tahap Pelaksanaan STAD
Guru terlebih dahulu menyiapkan lembar kegiatan dan lembar jawaban yang akan dipelajari siswa dalam kelompok kooperatif, kemudian menetapkan murid dalam kelompok heterogen dengan jumlah maksimal 4-6 orang. Aturan heterogenitas berdasarkan pada :
Pembagian tersebut harus seimbang, sehingga setiap kelompok terdiri dari murid dengan tingkat prestasi seimbang, Kemampuan akademik yang diperoleh dari hasil akademik sebelumnya.
Jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan bawaan/sifat, dan lain-lain;
Penyajian materi (Pendahuluan, menginformasikan hal yang penting untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari, Pengembangan, memberikan penjelasan tentang benar atau salah mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Praktek Kendali, memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan masalah agar siswa selalu siap.)
Kegiatan kelompok (Dalam kegiatan kelompok ini siswa bersama-sama mendiskusikan masalah, membandingkan jawaban, dan memperbaiki miskonsepsi.)
evaluasi (Dilakukan selama 45-60 menit secara mandiri untuk menunjukkan yang telah dipelajari siswa selama bekerja kelompok.)
Penghargaan kelompok (memberi penghargaan kepada kelompok berprestasi)
Penghitungan ulang skor awal dan pengubahan kelompok.
#Kelebihan dan kelemahan
Kelebihannya :
- Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain;
- Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan;
- Dalam proses pembelajaran siswa saling ketergantungan positif;
- Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain
Kekurangan:
-Membutuhkan waktu yang lama;
-Siswa yang pandai cenderung tidak mau disatukan dengan temannya yang kurang pandai, dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya;
- Siswa diberikan tes dan kuis secara perseorangan. Pada saat pengerjaan tes atau kuis ini, setiap siswa bekerja sendiri;
- Penentuan skor. Skor yang diperoleh siswa dimasukkan kedalam daftar skor individu untuk meliat peningkatan kemampuan individu;
- Penghargaan terhadap kelompok. Skor kelompok sangat bergantung pada sumbangan skor individu.
3. Metode Investigasi Kelompok
-Dalam metode investigasi kelompok ini siswa terlihat dalam perencanaan, baik topik yang dipelajari maupun bagaimana jalurnya penyelidikan mereka. Dalam penerapan investigasi kelompok ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen.keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik yang akan diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam. dan selanjutnya menyiapkan laporan untuk dipresentasikan
*Langkah:
Memilih topik
Perencanaan kooperatif (siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas, dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih)
Implementasi
analisis dan sintesis
Presentasi hasil
Evaluasi
-Kelebihan:
1. Dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri, kritis,kreatif,reflektif,dan produktif.
2. Dapat melatih siswa untuk mengembangkan sikap saling memahami dan menghormati.
3. Dapat melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi.
4. Dapat menumbuhkan sikap saling bekerja sama antar siswa.
- Kekurangan:
1. Merupakan modelpaling kompleks dan paling sulit dilakukan dalam proses belajar mengjar.
2. Dalam pelaksanaannya membutuhkan waktu yang relative lama.
3. Sulit diterapkan apabila siswa tidak memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik.
4. Metode Pendekatan Struktural
Pendekatan ini memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Struktur yang dikembangkan oleh Spencer ini menghendaki siswa saling membantu dalam kelompok kecil, dan lebih dicirikan pada penghargaan kooperatif daripada penghargaan individu.
- 2 Struktur:
a. Think Pair Share (Think-pairshare memiliki prosedur yang ditetapkan untuk memberikan waktu yang lebih banyak kepada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain)
b. Numbered heds together (suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran, dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut, sebagai langkah pengganti mengajukan pertanyaan.)
Komentar
Posting Komentar